Sunday, 22 May 2011

Penjajahan Budaya Bangsa

Setelah sekian lama saya vakum dari dunia blogging, sekarang saya kembali lagi untuk berbagi beberapa info tentunya masih dengan topic yang sama yaitu tentang INDONESIA. Pembahasan blog saya kali ini adalah tentang “ Penjajahan Budaya “. Apa sih yang dimaksud dengan Penjajahan Budaya?

Penjajahan Budaya atau penjajahan masa kini adalah hilangnya moral-moral ideologi suatu bangsa karena pengaruh budaya luar. Sadar gak sih kalau budaya kita ini sudah terkontaminasi? Lalu bagaimana kita mengembalikan citra budaya Indonesia yang telah diwariskan oleh para leluhur kita? 

Saat ini, penjajahan itu bersumber dari perilaku individualisme. Dengan berkembangnya budaya neoliberalisme yang mengedepankan individualisme dan uang, kondisi sosial masyarakat mengalami perubahan. Apa pandangan kita sebagai pembina "budaya" Negara Bangsa? Budaya kita ini telah didominasi oleh Budaya Eropa dan Amerika. Negara penjajah di Eropa berhasil mencapai kekuasaannya di daerah jajahan di luar Eropa. Kedudukan ilmu antropologi pun pada fase ini menjadi penting, yaitu mengetahui latar belakang kehidupan dan kebudayaan masyarakat pribumi. Yang terakhir inilah yang telah terjadi pada fase ketiga, dimana penjajahan pada bangsa-bangsa Asia dan Afrika mencapai puncaknya oleh bangsa Eropa. Mereka berlomba-lomba untuk memperluas daerah jajahannya, termasuk belanda yang saat itu Sejak zaman penjajahan hingga sekarang, dan kita sebagai pelaku budaya bangsa tetaplah selalu menjunjung tinggi Nilai-Nilai Pancasila Berakar dari Budaya Bangsa.

Banyak sekali saya menemukan anak-anak muda jaman sekarang yang justru bangga menampilkan atau membanggakan budaya luar. Mereka seakan-akan berlomba-lomba menampilkan fashion ala Barat. Contohnya saja, saat ini banyak sekali wanita-wanita Indonesia yang berpacaran atau bersuamikan orang luar (baca: Bule). Dan mereka dengan bangganya malah menerapkan kebudayaan Western, dengan berdandan ala Paris Hilton atau Victoria Bechkam, seakan-akan mereka malu dengan budayanya sendiri. Saya bukannya sirik atau apalah melihat seperti itu, tapi saya cuma berpikir saja, kenapa kita tidaklah tetap menjaga kebudayaan kita, atau malah kita menunjukkan budaya kita ke dunia luar dengan cara tetap menerapkan adat Ketimuran yang kita miliki, toh walaupun berpacaran dengan orang bule, kita juga gak boleh lupa dengan budaya leluhur Indonesia. Malah seharusnya kita bangga dan memperlihatkan, “Hey, I’m Indonesian, and I’m proud of being Indonesian”

Sebenarnya kalau dipikir-pikir ya susah juga mengubah pemikiran atau pandangan sesorang tentang nilai budaya. Kita juga tidak bias menyalahkan satu sama lain, kita hidup di jaman globalisasi modern dimana akses-akses untuk mengenal budaya barat lebih muda didapat, contohnya melalui internet, dsb. Sekarang gak kayak jamannya tahun 45, dimana orang-orang Indonesia masih pada dicekokin oleh amalan-amalan pancasila tiap harinya. Sekarang saja udah banyak anak-anak sekolah yang gak hafal isi sila pancasila. Lagu Indonesia Raya pun masih banyak yang kebalik-balik liriknya, jujur liat seperti itu rasanya miris banget. Kalau orang Indonesia sendiri tidak mencintai adat budaya nya lalu, siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikannya kalau bukan kita sendiri. 

Mencintai atau mengagumi budaya Negara lain itu wajar, tapi bukan berarti kita melupakan budaya sendiri. Apakah kita gak kasihan liat para pejuang kita mati-matian mempertahankan Indonesia agar tak dirampas oleh tangan penjajah? Saya cuma bisa berharap agar para generasi muda sadar dan tetap mencintai budaya leluhur yang telah diwariskan oleh para nenek moyang kita. Sekali lagi jangan biarkan Ibu Pertiwi bersedih. Cintai Indonesia, Jangan Biarkan Budaya kita dijajah. Karena semua itu kembali pada diri masing-masig individu.

Maaf bagi yang tidak suka dengan isi blog ini, saya hanya menulis apa yang ada didalam pikiran saya. kita tetaplah saudara. SATU INDONESIA :)

Thursday, 16 September 2010

Kisah 2 Bocah Penjual Koran

Bedug magrib diiringi suara adzan telah berkumandang. saya dan teman-teman beristirahat dan mulai berbuka puasa di pinggir jalan Gubernur Suryo (dapan rumah dinas Gubernur JATIM), tepatnya depan Taman Apsari Surabaya. Waktu itu kami sedang berbuka puasa, dan memakan kue ta’jil yang kami bawa dari rumah. Lalu tiba-tiba datanglah dua bocah laki-laki penjual koran, dengan wajah yang lugu mereka memelas kepada kita untuk membeli korannya. Karena wajah lugu mereka saya dan teman-teman pun tak tega melihatnya, lalu kami pun mengajak mereka untuk bergabung dan berbuka bersama kita.

Uniknya tiba-tiba, salah satu dari mereka, anggap saja namanya A (karena saya lupa menanyakan siapa nama mereka), dia memamerkan sepotong baju baru kepada kita, sambil membuka bungkusan tas plastik, mereka bilang, “mbak, liat ini tadi aku dikasih baju sama orang dipinggir jalan.”, “Bajunya bagus, wah bisa buat lebaran itu.” Sahut temanku. Lalu si A menjawab, “tapi baju ini mau saya jual mbak, biar dapat uang, trus uangnya dibuat lebaran.” Kami serentak pun bilang, “Jangan!”, “itu baju kamu pakai saja buat lebaran, kalau dikasih orang itu harus dipakai, jangan dijual lagi, gak boleh, kamu harus menghormati orang yang memberimu baju itu” sahut salah satu temanku. Lalu saya menambahi, “kamu lho bakalan keliatan ganteng kalau pakai baju itu, udah jangan dijual, nanti sampe rumah tunjukkan ibumu pasti senang.”, lalu si A membalas, “iya deh mbak gak jadi tak jual.” Lalu ia pun memasukkan kembali ke dalam tas plastik warna kuning itu.

Lalu saya dan teman-teman mencoba untuk tanya-tanya tentang kehidupan mereka, akan tetapi mereka menjawabnya dengan guyonan, Bocah berbadan sedikit gendut, anggap saja namanya B bilang, ”mbak sama mas ngapain tanya-tanya gitu, kita mau jawab kalau mbak-mbak dan mas-mas ini beli koran kita.”, “Beresssss!!!” sahut kita bersamaan. Tapi bocah satunya, si A malah gak mau kita tanyain, apalagi pas kita mau foto mereka, dia benar-benar menolak, malah dia menyahut, “mbak jangan ditanya-tanyain dan di foto gitu dong, kami takut, kami gak mau masuk koran.” Serentak kami pun tertawa, lalu saya menjawab, “ tenang adek-adek kami ini bukan wartawan kok, kami cuma pengen sekedar tau aja. Lagian ngapain mesti takut, kalian kan kerja jualan koran, bukan pengemis atau gelandangan, jadi gak perlu takut.”

Dalam hal ini intinya saya ingin sekali mendapat sedikit informasi tentang kehidupan mereka. Karena saya memiliki pemikiran bahwa anak-anak seusia mereka itu seharusnya berada di rumah untuk belajar, tapi mereka malah berkeliling di tengah kota demi mencari rupiah. Setelah hampir lebih setengah jam saya dan teman-teman saya ngobrol dengan dua bocah penjual koran itu, kami tetap tidak mendapatkan informasi sedikitpun tentang kehidupan mereka. Yang ada mereka malah guyonan, dan akhirnya kami pun malah guyonan bareng dipinggiran jalan. Karena hari semakin malam, tepatnya waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB, saya dan teman-teman pun segera beranjak dan meninggalkan tempat, dan berpamitan kepada mereka Lalu tiba-tiba si bocah A bilang kepada kami, “mbak, mas kita boleh numpang sampai depannya Delta gak.”, lalu saya pun menjawab, “iya boleh, ayo tak bonceng sini.” Akhirnya pun saya memboceng dua bocah tersebut sampai depannya Delta Plaza. saya pun akhirnya mengambil kesempatan itu untuk bertanya-tanya lagi sama mereka, diatas motor yang sedang saya kendarai akhirnya mereka pun mau bercerita sedikit tentang kehidupan mereka.
Si bocah A akhirnya mulai bercerita, si bocah A dan bocah B ini adalah anak kelas 5 SD, dia bersekolah di SD dekatnya Jalan Wijaya Kusuma (mereka tidak menyebutkan nama sekolahnya apa), mereka tinggal di perkampungan kecil di daerah dekat Kotamadya Surabaya/Balai Kota Surabaya, mereka adalah tetangga yang memiliki nasib yang sama. Lalu si bocah A ini mulai bercerita bahwa bapaknya dia adalah seorang tukang becak, yang berpenghasilan sangat pas-pasan, dan ibunya ini juga tidak bekerja, jadi ayahnya yang hanya seorang tukang becak itupun menjadi tulang punggung keluarga. Lalu si bocah B giliran bercerita, bapaknya adalah seorang tukang sapu yang biasanya membersihkan jalan-jalan, terus ibunya adalah seorang tukang cuci keliling rumah ke rumah. Tujuan utama mereka berjualan koran adalah untuk membantu meringankan beban orang tuanya, biasanya mereka berjualan koran setelah pulang sekolah sekitar pukul 12.00 siang sampai malam pukul 22.00. lalu saya bertanya, “Lho, terus kapan kalian belajarnya?”, mereka pun menjawab, “ yo sinau’e pas wayahe ulangan tok mbak, awak dewe kesel mbak mari dodolan koran yo langsung turu.” (kita belajarnya kalau ulangan saja mbak, kan kita capek mbak, abis jualan koran langsung tidur), dengan logat suroboyoan mereka menjawab dengan santai. Lalu saya pun sedikit memberikan nasehat kepada mereka, bahwa pendidikan jangan sampai terlupakan, Dengan lugunya mereka cuma mengangguk, saya bisa melihat ekspresi wajah mereka dari kaca spion motor saya. Mereka juga bilang bahwa penghasilan mereka menjual koran ini adalah sekitar Rp. 15.000,- s/d Rp. 20.000,- per hari, dan bila korannya gak habis, maka mereka harus mengembalikannya lagi ke agennya. Tapi mereka juga bercerita, terkadang mereka juga bisa mendapatkan hasil yang lebih, yaitu penghasilan dari hasil belas kasihan orang-orang, kadang juga ada orang yang hanya memberi mereka uang saja tanpa membeli koran mereka. Lalu saya bertanya, apakah penghasilan segitu cukup bagi mereka, dan uangnya dibuat apa?, si bocah A menjawab, “yo cukup ae mbak, duite tak gawe jajan, trus sebagian tak kekno ibuku, bapakku jarang ngeke’i aku duit mbak” (re: Ya cukup saja mbak, uangnya tak buat jajan, trus sebagian tak kaihkan ke ibuku, bapakku jarang ngasih aku uang mbak). Akhirnya saya pun sampai juga di depan Jl. Pemuda tepatnya di depan Delta Plaza, saya menurunkan mereka disitu, sebelum berpisah saya pun melakuakn ‘tos’ dulu sama mereka, dan bilang, “belajar sing pinter yo le!” dan saya melihat mereka dari pinggir jalan, dengan semangatnya mereka berlarian dan mulai menjual koran mereka lagi kepada orang-orang yang lewat. Lalu saya dan teman-teman yang lain pergi meninggalkan mereka.

Dari pengalaman saya ini, saya bisa menyimpulkan bahwa hidup di kota metropolitan seperti Surabaya ini sungguh sulit. Semua serba mahal, ekonomi adalah kendala utama kita untuk bertahan hidup. Mereka anak-anak kecil yang seharusnya menghabiskan waktu mereka di rumah untuk belajar dan bermain, justru mereka malah menghabiskan waktu mereka di pinggiran jalan, di tengah kota yang berdebu hanya untuk mencari rupiah. Dua bocah penjual koran tersebut adalah salah satu potret kota metropolitan yang bisa kita buat sebagai pelajaran, bahwa hidup ini begitu keras dan penuh perjuangan. Kita bisa mencontoh semangat-semangat mereka dalam mempertahankan kehidupan yang keras ini. Setiap hari mereka berjualan koran, seperti tak ada beban dalam hidup mereka, justru mereka terlihat begitu riang dan ceria. Saya pun yang sudah mahasiswa justru terkadang masih belum bisa hidup mandiri, uang jajan terkadang masih minta sama orang tua. Dan kisah itu membuat saya sadar bahwa saya harus lebih mandiri dan bersyukur atas apa yang saya dapatkan. Hidup ini susah, tapi kita harus menjalaninya dengan penuh semangat dan kemandirian.

Monday, 16 August 2010

Jangan Curi Kekayaan Indonesiaku!!!




Beberapa waktu yang lalu Indonesia telah diributkan oleh adanya beberapa budaya Indonesia yang dicuri oleh negara ttangga, yaitu Malaysia. Negeri jiran tersebut meng-klaim beberapa kebudayaan Indonesia sebagai miliknya. Salah satu contohnya adalah Malaysia mempromosikan negaranya dengan iklan yg bertemakan “Enigmatic Malaysia”. Dimana iklan tersebut menampilkan tari pendet (yang berasal dari Bali dan Wayangan yang jelas-jelas berasal dari Jawa. Sebagai orang Indonesia pasti kita merasa marah dengan adanya peng-klaiman tersebut. Selain Malaysia ada juga beberapa negara uang mengakui artefak budaya Indonesia sebagai milik mereka

Berikut ini adalah data dari beberapa artefak budaya Indonesia yang di klaim oleh negara lain (sumber: google) :

1. Batik dari Jawa diklaim oleh Adidas
2. Naskah Kuno dari Riau diklaim oleh Pemerintah Malaysia
3. Naskah Kuno dari Sumatera Barat diklaim oleh Pemerintah Malaysia
4. Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan diklaim oleh Pemerintah Malaysia
5. Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara diklaim oleh Pemerintah Malaysia
6. Rendang dari Sumatera Barat diklaim oleh Oknum WN Malaysia
7. Sambal Bajak dari Jawa Tengah diklaim oleh oknum WN Belanda
8. Sambal Petai dari Riau diklaim oleh oknum WN Belanda
9. Sambal Nanas dari Riau diklaim oleh Oknum WN Belanda
10. Tempe dari Jawa diklaim oleh beberapa Perusahaan Asing
11. Lagu “Rasa Sayang Sayange” dari Maluku diklaim oleh Malaysia
12. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur diklaim oleh Malaysia
13. Lagu “Soleram” dari Riau diklaim oleh Malaysia
14. Lagu “Injit-Injit Semut” dari Jambi diklaim oleh Malaysia
15. Alat musik Gamelan dari Jawa diklaim oleh Malaysia
16. Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur diklaim oleh Malaysia
17. Tari Piring dari Sumatera Barat diklaim olh Malaysia
18. Lagu “Anak Kambing Saya” dari Nusa Tenggara diklaim oleh Malaysia
19. Lagu “Kakak Tua” dari Maluku diklaim oleh Malaysia
20. Kursi Taman dengan Ornamen Ukir khas Jepara Jawa Tengah oleh Oknum WN Perancis
21. Pigura dengan Ornamen Ukir khas Jepara Jawa Tengah diklaim oleh Oknum WN Inggris
22. Motif Batik Parang dari Yogyakarta diklaim oleh Malaysia
23. Desain Kerajinan Perak Desak Suwarti dari Bali diklaim oleh Oknum WN Amerika
24. Produk berbahan Rempah-Rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia diklaim oleh Shiseido Co Ltd
25. Badik Tumbuh Lada diklaim oleh Malaysia
26. Kopi Gayo dari Aceh diklaim oleh Perusahaan Multinasional (MNC Belanda
27. Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan diklaim oleh Perusahaan Jepang
28. Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat diklaim oleh Malaysia
29. Kain Ulos diklaim oleh Malaysia
30. Alat Musik Angklung diklaim oleh Malaysia
31. Lagu “Jali-Jali” diklaim oleh Malaysia
32. Tari Pendet dari Bali diklaim oleh Malaysia


Tari Pendet dari Bali yang pernah diklaim sbagai milik Malaysia


Alat Musik Angklung dari Jawa Barat yang terbuat dari bambu, angklung ini dulu juga pernah diklaim oleh Malaysia

Bila kita telusuri lebih dalam lagi ternyata telah banyak beberapa kekayaan Indonesia yang dicuri atau diklaim oleh negara asing. Lalu, kita sebagai orang Indonesia apa yang musti kita lakukan? Ya, menurut pendapat saya kasus pencurian budaya oleh negara asing tersebut merupakan contoh dari kelalaian kita untuk menjaga warisan budaya nenek moyang kita. Mungkin kita sebagai orang Indonesia kurang menjaga dan melestarikan kekayaan budaya yang kita miliki, atau bahkan ada beberapa yang mungkin justru lupa dan tidak mengenali kekayaan budaya bangsa sendiri. Oleh karena itu bangsa lain dengan mudahnya mencuri kekayaan negara kita.


Reog Ponorogo dari Jawa Timur juga pernah diklaim sebagai budaya Malaysia

Dengan adanya kasus seperti ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kita sebagai orang pribumi yang hidup di Tanah Indonesia hendaklah harus bangga akan kebudayaannya sendiri, menjaganya serta melestarikannya itu hal yang wajib kita lakukan. Tidak hanya itu, kalau perlu kita juga bisa memperkenalkan budaya yang kita miliki kepada negara asing. Salah satu contoh pelestarikan budaya kita yang sekarang sering kita jumpai adalah memakai pakaian batik setiap hari Jumat. Itu merupakan salah satu perwujudan pelestarian budaya yang kita miliki. Pada tanggal 2 Oktober 2009 lalu, UNESCO sudah menetapkan bahwa batik adalah budaya milik Indonesia, dan sejak saat itu pula setiap hari Jumat dinyatakan sebagai hari Batik.

Jadi sebagai orang Indonesia kita haruslah bangga terhadap adat dan budaya yang kita miliki. Jangan pernah malu untuk menunjukkan dan memperkenalkan budaya kita. Karena budaya merupakan identitas diri kita.

<blockquote>
“Indonesia adalah negara yang memiliki beragam budaya dan bahasa, akan tetapi Indonesia adalah negara yang ber Bhineka Tunggal Ika. Walaupun kita berbeda akan tetapi kita tetap satu bangsa yaitu bangsa Indonesia.”


Sunday, 15 August 2010

REMAJA INDONESIA ADALAH PENERUS BANGSA


(Gambar dikutip dari google)

Dalam rangka memperingati “ Hari Remaja Sedunia” yang jatuh pada tanggal 12 Agustus, saya sengaja menulis artikel ini, karena saya ingin berbagi pendapat tentang remaja di Indonesia. Apakah definisi dari remaja itu sendiri bagi negara? Remaja adalah sosok calon generasi muda yang akan meneruskan perjuangan bangsa dan negara ke arah yang lebih baik lagi. Lalu, apakah para remaja Indonesia menyadari bahwa mereka adalah penerus bangsa? Menurut pendapat saya banyak para remaja Indonesia yang tidak menyadari bahwa mereka adalah penerus bangsa. Saya memiliki pandangan seperti itu karena bila saya lihat banyak sekali remaja-remaja di Indonesia yang menghabiskan masa mudanya untuk melakukan hal-hal negatif, yang bisa merusak moral bangsa.

Banyak sekali remaja-remaja yang sudah tidak peduli akan bangsa dan negara. Lagi-lagi hal ini terjadi akibat dari efek globalisasi. Budaya Barat sepertinya telah menyelimuti dan mendarah daging di kehidupan remaja saat ini, sehingga banyak diantara mereka yang melupakan budaya Timur Indonesia. Dan bahkan banyak juga para calon generasi muda kita yang tidak bangga akan Tanah Airnya. Selain itu banyak juga hal-hal negatif yang dilakukan para remaja sehinga bisa merusak moral bangsa ini. Narkoba salah satunya, benda haram itu seakan-akan sudah begitu familiar dikalangan remaja. Narkoba seeakan-akan sudah menjadi “jajanan” bagi mereka. Padahal sudah banyak korban akibat narkoba, akan tetapi mereka sepertinya tidak peduli lagi, bagi mereka kenikmatan adalah segalanya. Selain narkoba, hal negatif yang sudah melekat dikalangan remaja adalah pergaulan bebas. Mereka bebas sesuka hati mereka untuk melakukan hal-hal yang mereka inginkan. Padahal hal-hal yang mereka lakukan adalah sesuatu yang condong ke arah negatif, dan mereka seakan-akan sudah tidak mau mendengarkan nasehat yang benar. Karena di mata mereka semua yang mereka lakukan itu adalah benar.

Kenakalan remaja yang saat ini sedang membebabi negeri ini telah banyak kita temui dimana-mana, dan bahkan hampir setiap hari kita melihat kasus remaja di media cetak ataupun media elektronik. Pemerintah juga tidak tinggal diam, sudah banyak hal yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengubah mereka ke arah yang lebih baik.
Akan tetapi hal tersebut sudah tidak dipedulikan lagi oleh mereka. Menurut pendapat saya, kenakalan remaja itu bisa terjadi karena beberapa faktor, seperti:
1. Kurangnya perhatian dari orang tua
2. Pengaruh lingkungan sekitar
3. banyaknya beban masalah yang merka hadapi
4. mengalami ganguan psikologi.

Remaja Indonesia haruslah sadar bahwa mereka adalah penerus bangsa. Mereka adalah generasi muda yang harus mampu membangun negeri ini ke arah yang lebih baik lagi, mereka sangat berperan dalam pembangunan dan masa depan bangsa. Negera ini membutuhkan remaja-remaja yang bermoral dan berintelektual. Harga diri bangsa ada di tangan para penerus bangsa, mereka harus bisa membawa nama negeri ini menjadi lebih baik di mata dunia. Mereka juga harus mampu me-manage pengaruh globalisasi dari luar. Pengaruh globalisasi yang buruk hendaklah dibuang dan ditinggalkan saja, karena itu bisa merusak budaya dan citra bangsa, karena Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi adat dan budaya.

Indonesia hanyalah butuh generasi yang bermoral, dan untuk menjadi generasi bermoral tidaklah susah. Cukup melakukan hal-hal positif yang berguna bagi diri sendiri, orang lain, agama dan bangsa. Maka dari itu kita semua ini adalah generasi penerus bangsa. Kita adalah putra-putri kebanggaan bangsa yang harus bisa membawa negeri ini menjadi negeri yang berakhlak dan bermoral.


“Wahai penerus bangsa, kenalilah negerimu, cintailah Tanah Airmu, tunjukkan bahwa kita adalah putra-putri bangsa yang berbudaya dan berintelektual yang mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik lagi.” -Rulyana Oktorya-

Monday, 9 August 2010

Permainan Tradisional adalah Warisan Budaya yang Mulai Terlupakan Karena Akibat dari Globalisasi


Permainan dakon ini adalah permainan yang mengasah otak kita (gambar dikutip dari google)

Perkembangan globalisasi yang semakin maju sepertinya telah membawa banyak pengaruh, khususnya bagi generasi muda. Perkembangan IPTEK yang semakin maju khususnya di Indonesia memang merupakan hal yang sangat bagus sekali dalam mengembangkan tingkat pengetahuan kita. Akan tetapi karena adanya tingkat globalisasi tersebut, maka banyak pula sebagian diantara kita yang mungkin sedikit melupakan budaya asli kita sebagai orang Timur. Salah satu warisan budaya kita yang sedikit terlupakan adalah “Permainan Tradisional”.

Bila kita perhatikan lebih jauh, anak-anak jaman sekarang lebih akrab bermain dengan permainan-permainan yang berbau elektronik dan internet, salah satu contoh yang paling banyak kita jumpai adalah “Handphone” atau yang lebih kita kenal dengan sebutan “HP”. Ya, HP merupakan “Permainan” wajib bagi anak-anak jaman sekarang, bahkan anak umur 5 tahun pun sekarang sudah ahli mengutak-atik HP. Saya sudah sering menjumpai anak-anak SD yang bermain Facebook, Twitter dan googling di HP mereka. Selain itu mereka juga akrab sama yang namanya “komputer”, saya juga sering menjumpai anak-anak kecil yang dengan serius menatap layar komputer, ternyata mereka sedang bermain “Game Online.” Lalu, bila kita melihat keadaan yang seperti itu tentunya kita bertanya-tanya, apakah mereka masih mengenal dengan permainan tradisional? Dan bagaimanakah nasib dari permainan tradisional di jaman globalisasi saat ini?

Kalau kita flasback ke era 90an, kita mungkin masih mengenal dengan yang namanya permainan tradisional, contohnya engklek, benteng-bentengan, gobag sodor, petak umpet, dakon, bola bekel, loncat tali, urik-urik (permainan karet), dolip-dolipan, loncat tali, cublak-cublak suweng, pasaran (permainan jual-beli), gasing, egrang, yoyo, dan lain sebagainya. Dulu pada jaman saya masih duduk di bangku SD (sekolah dasar) saya sering memainkan beberapa permainan tradisional, dan permainan favorit saya adalah bermain dakon.

Dakon adalah permainan yang berasal dari Jawa dan merupakan permainan yang mengasah otak, katanya bila kita pandai memainkan dakon maka kita juga pasti akan pandai dalam mengelola keuangan dan manejemen. Permainan dakon adalah permainan yang membutuhkan kecerdasan, karena apabila kita salah mengambil biji kecik maka kita bisa kalah. Selain dakon permainan yang sering saya mainkan bersama teman-teman saya adalah engklek dan gobag sodor. Engklek adalah permainan loncat-loncat, dimana permainan tersebut melatih keseimbangan kita. Dan permainan gobag sodor adalah permainan yang dimainkan secara maju mundur dan melewati pintu-pintu. Dalam bahasa Belanda permainan gobag sodor mungkin sama dengan kata “Go Back Through The Door” dalam Bahasa Inggris. Dan masih banyak lagi permainan tradisional yang biasa saya mainkan bersama teman-teman.


Permainan ini disebut dengan "engklek" karena bermainnya sambil loncat dengan menggunakan satu kaki (gambar dikutip dari google)

Memasuki era 2000an, tepatnya era millenium, permainan tradisional sudah mulai pudar pamornya. Banyak anak-anak yang sudah mulai meninggalkan permainan tradisional dan banyak diantara mereka yang memilih bermain dengan benda-benda elektronik, contohnya saja adik saya. Saya tidak pernah melihat adik saya memainkan permainan tradisional, karena dari umur 8 tahun dia sudah mengenal dengan yang namanya HP. Saya dan adik saya berselisih umur 10 tahun. Saya pernah mengenalkan kepada adik saya tentang beberapa permainan tradisional seperti dakon dan bola bekel, dan bahkan saya juga pernah mengajak dia bermain dakon dan bola bekel, akan tetapi itu tak berlangsung lama, karena adik saya merasa bosan bermain permainan seperti itu, dan dia lebih memilih untuk mengotak-atik HPnya. Dan inilah salah satu contoh bahwa permainan tradisional sudah menghilang di kalangan anak-anak jaman sekarang.


Permainan ini namanya "Gobag Sodor", cara bermainnya yaitu maju mundur melewati pintu (gambar dikutip dari google

Seperti kita ketahui bahwa permainan tradisional merupakan warisan budaya kita yang perlu kita lestarikan, akan tetapi saya pribadi sudah jarang dan bahkan tidak pernah melihat anak-anak jaman sekarang memainkan permainan tradisional lagi. Dengan kata lain kita sudah hampir kehilangan salah satu warisan budaya kita. Lalu, kita sebagai salah satu pewaris budaya seharusnya kita bisa menjaga dan melestarikan budaya tersebut. Contohnya kita bisa mengenalkan permainan-permainan tradisional ke anak-anak kecil dan memberi penjelasan kepada mereka bahwa permainan tradisional merupakan warisan budaya yang harus kita lestarikan.